Bekasi, 28 Maret 2026 — Pertemuan kedua kegiatan storytelling di Felicia Angel Kids berlangsung dengan suasana yang mulai berbeda dibandingkan sesi sebelumnya. Jika pada pertemuan pertama banyak anak masih terlihat ragu untuk berbicara di depan umum, kali ini mulai tampak perubahan kecil dalam keberanian dan cara mereka menyampaikan cerita.
Sebagian peserta yang sebelumnya belum sempat tampil akhirnya mendapat kesempatan untuk maju pada sesi kali ini. Mereka datang bukan hanya dengan hasil latihan, tetapi juga dengan pengalaman belajar dari melihat penampilan teman-teman mereka pada pertemuan sebelumnya.
Tanpa disadari, pengalaman mengamati teman tampil di depan ternyata memberikan pengaruh yang cukup besar bagi anak-anak. Mereka mulai memahami bagaimana cara berdiri, berbicara, hingga menyusun cerita dengan lebih terarah.
Beberapa peserta terlihat mencoba memperbaiki cara berbicara mereka. Ada yang mulai menjaga posisi tubuh, ada yang berusaha berbicara lebih jelas, dan ada pula yang mencoba menggunakan gestur sederhana untuk mendukung penyampaian cerita.
“Sudah mulai kelihatan mereka belajar dari yang kemarin,” ujar salah satu fasilitator.
Meskipun perubahan yang terlihat masih sederhana, proses tersebut menunjukkan bahwa anak-anak mulai memahami dan mencoba menerapkan masukan yang mereka terima.
Dibandingkan pertemuan sebelumnya, jumlah anak yang berani mencoba tampil mulai bertambah. Rasa malu memang masih terlihat, tetapi tidak lagi sekuat pada awal kegiatan.
Beberapa peserta mulai mampu berbicara dengan suara yang lebih jelas dan menunjukkan usaha untuk menyampaikan cerita secara lebih runtut. Meski belum sepenuhnya konsisten, perkembangan kecil tersebut menjadi tanda bahwa mereka mulai merasa lebih nyaman untuk tampil di depan orang lain.
Di balik perkembangan yang mulai terlihat, kegiatan kali ini juga menghadapi beberapa tantangan. Cuaca yang cukup panas membuat anak-anak lebih mudah terdistraksi dan sulit mempertahankan fokus selama sesi berlangsung.
Beberapa peserta beberapa kali meminta izin keluar ruangan. Ada yang kembali setelah beberapa saat, namun ada juga yang cukup lama tidak kembali ke area kegiatan.
Beberapa anak terlihat berbincang dengan suster dengan alasan mengambil makanan ringan, sementara yang lain sempat meninggalkan area kegiatan setelah selesai tampil karena merasa tugas mereka sudah selesai.
Situasi tersebut membuat fasilitator harus terus menjaga ritme kegiatan agar anak-anak tetap terlibat dalam proses pembelajaran secara keseluruhan.
Menghadapi situasi tersebut, fasilitator tidak menggunakan pendekatan yang keras. Sebaliknya, mereka mencoba mengingatkan anak-anak tentang pentingnya menghargai teman yang sedang berani tampil di depan.
“Temannya lagi berani maju; kita juga perlu belajar untuk menghargai itu,” ujar salah satu fasilitator kepada peserta.
Pendekatan yang dilakukan secara perlahan ini membantu beberapa anak kembali bergabung ke dalam kegiatan. Meskipun fokus mereka belum sepenuhnya stabil, setidaknya mereka kembali hadir dan mencoba mengikuti proses sampai akhir sesi.
Dari hasil pengamatan tim fasilitator dan juri, perkembangan peserta mulai terlihat, namun masih banyak aspek yang perlu terus dilatih.
Beberapa anak masih berbicara dengan suara yang terlalu pelan sehingga sulit terdengar. Ada pula yang menggunakan intonasi datar, belum mampu menyusun alur cerita dengan baik, atau terlalu sering mengulang bagian yang sama.
Bahasa tubuh juga menjadi tantangan tersendiri. Sebagian peserta terlihat terlalu kaku saat berdiri, sementara yang lain justru terlalu banyak bergerak karena merasa gugup.
Beberapa anak bahkan sempat berhenti di tengah cerita karena kehilangan alur atau lupa dengan apa yang ingin mereka sampaikan.
Selain perkembangan kemampuan berbicara, emosi anak-anak juga terlihat lebih beragam pada pertemuan kali ini. Ada yang tertawa karena gugup, ada yang tetap mencoba meskipun sempat lupa, bahkan ada yang menangis ketika sedang tampil di depan.
Namun yang menarik, sebagian besar dari mereka tetap mencoba melanjutkan cerita sampai selesai.
Momen-momen kecil seperti itulah yang menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran mereka. Keberanian untuk tetap mencoba di tengah rasa gugup menjadi langkah awal yang sangat berarti.
Pertemuan kedua ini memang belum menunjukkan hasil yang sempurna. Namun dibandingkan sesi pertama, arah perkembangan anak-anak mulai terlihat dengan lebih jelas.
Mereka tidak hanya belajar tentang teknik bercerita, tetapi juga belajar mengenai keberanian, fokus, disiplin, dan cara menghargai proses diri sendiri maupun orang lain.
“Prosesnya memang tidak cepat, tapi perubahan kecil itu sudah mulai ada,” ujar salah satu juri di akhir kegiatan.
Kegiatan storytelling ini akan terus berlanjut sebagai bagian dari proses pengembangan diri anak-anak. Harapannya, pada pertemuan berikutnya mereka dapat tampil dengan lebih siap, lebih percaya diri, dan semakin mampu menyampaikan cerita mereka dengan baik di depan banyak orang.