Bekasi, 27 Maret 2026 — Pertemuan pertama kegiatan pembinaan di Pondok Taruna menjadi pengalaman baru bagi anak-anak untuk mulai mengenal dan memperkenalkan diri di depan orang lain. Bagi sebagian peserta, hal sederhana seperti berbicara tentang diri sendiri ternyata menjadi tantangan yang tidak mudah.
Kegiatan yang dimulai pada sore hari tersebut sempat berjalan sedikit mundur karena sebagian peserta datang secara bertahap. Di awal kegiatan, hanya beberapa anak yang sudah hadir, sementara peserta lainnya menyusul beberapa waktu kemudian. Meski begitu, sesi tetap dimulai dengan suasana santai agar anak-anak merasa lebih nyaman untuk mengikuti kegiatan.
Dalam sesi ini, anak-anak tidak hanya diminta menyebutkan nama mereka. Fasilitator mengajak peserta untuk mulai bercerita tentang hal-hal sederhana yang berkaitan dengan diri mereka sendiri, seperti apa yang mereka sukai, pengalaman yang paling berkesan, hingga impian yang ingin mereka capai di masa depan.
“Ceritakan saja apa yang kamu tahu tentang diri kamu,” ujar salah satu fasilitator saat membuka sesi.
Pendekatan ini dilakukan agar anak-anak mulai memahami bahwa pengenalan diri bukan sekadar formalitas, melainkan langkah awal untuk mengenal diri sendiri dan belajar menyampaikan pikiran kepada orang lain.
Namun ketika diminta berbicara di depan kelompok, terlihat bahwa sebagian besar peserta masih merasa ragu.
Saat sesi presentasi dimulai, suasana sempat dipenuhi keheningan. Beberapa anak terlihat menunduk, saling menunjuk temannya untuk maju terlebih dahulu, sementara yang lain memilih diam tanpa banyak berbicara.
Rasa malu dan takut menjadi hal yang paling dominan pada pertemuan pertama ini. Banyak peserta belum terbiasa berbicara di depan banyak orang, sehingga mereka tampak gugup bahkan sebelum mulai berbicara.
Dari seluruh peserta yang hadir, hanya satu anak yang akhirnya memberanikan diri maju ke depan, itupun setelah mendapat dorongan dan pendampingan dari fasilitator.
Momen tersebut menjadi gambaran bahwa keberanian berbicara bukan sesuatu yang langsung muncul, tetapi perlu dibangun melalui proses dan lingkungan yang mendukung.
Melihat anak-anak masih kesulitan, fasilitator kemudian membagi peserta ke dalam kelompok kecil. Dalam suasana yang lebih santai, mereka diajak berdiskusi dan mulai menyusun hal-hal yang ingin mereka ceritakan.
Perlahan, beberapa anak mulai terlihat lebih aktif. Ada yang mulai bertanya tentang bagaimana menyampaikan pengalaman pribadi, ada juga yang mencoba memahami apa yang dimaksud dengan moto hidup.
Salah satu peserta bahkan meminta untuk latihan secara langsung bersama fasilitator sebelum mencoba berbicara di depan kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya keinginan untuk mencoba sudah mulai muncul, meskipun rasa percaya diri mereka masih perlu dibangun.
Dari proses latihan tersebut, fasilitator mulai melihat bahwa beberapa anak sebenarnya memiliki kemampuan dasar dalam berbicara. Mereka mampu menjawab pertanyaan dan menyampaikan ide dengan cukup baik ketika berada dalam kelompok kecil.
Namun, kemampuan itu masih tertahan oleh rasa gugup dan kurangnya pengalaman berbicara di depan umum. Sebagian peserta masih bingung menyusun alur cerita, sementara yang lain belum terbiasa mengungkapkan isi pikiran secara runtut.
Karena itu, kegiatan ini tidak hanya berfokus pada kemampuan berbicara, tetapi juga membantu anak-anak belajar memahami diri mereka sendiri secara perlahan.
Selama kegiatan berlangsung, terdapat beberapa faktor yang turut memengaruhi proses pembelajaran. Cuaca yang cukup panas membuat anak-anak lebih mudah terdistraksi dan sulit menjaga fokus dalam waktu lama.
Selain itu, keterlambatan kehadiran peserta membuat ritme kegiatan sempat terpecah di awal sesi. Meski demikian, anak-anak tetap mengikuti kegiatan hingga selesai dan mencoba terlibat dalam setiap proses yang diberikan.
Pertemuan pertama ini memang belum menunjukkan banyak peserta yang berani tampil di depan umum. Namun, proses kecil yang terjadi selama kegiatan menjadi langkah awal yang penting.
Anak-anak mulai belajar bahwa memperkenalkan diri bukan hanya tentang berbicara, tetapi juga tentang keberanian untuk mengenal dan menerima diri sendiri.
Melalui kegiatan ini, diharapkan anak-anak dapat perlahan membangun rasa percaya diri, belajar menyampaikan pikiran dengan lebih baik, serta semakin berani untuk tampil dan berbicara di depan orang lain pada pertemuan-pertemuan berikutnya.