Bekasi, 28 Maret 2026 — Anak-anak dari Pa Van Der Steur (PVDS) mengikuti kegiatan pelatihan public speaking yang dilaksanakan di lingkungan yayasan di kawasan Pondok Melati, Kota Bekasi. Kegiatan ini menjadi langkah awal bagi peserta untuk belajar berbicara di depan umum sekaligus membangun rasa percaya diri sejak dini.
Sebanyak 12 anak mengikuti sesi yang berlangsung selama kurang lebih dua jam tersebut. Dalam kegiatan ini, peserta tidak hanya belajar berbicara, tetapi juga memahami bagaimana menyampaikan diri dengan lebih percaya diri dan terstruktur.
Kegiatan diawali dengan pemberian materi dasar mengenai public speaking. Anak-anak diperkenalkan pada beberapa elemen penting dalam berbicara di depan umum, seperti ekspresi wajah, intonasi suara, posisi tubuh, kontak mata, hingga penggunaan gerakan tangan yang tepat saat menyampaikan cerita.
Fasilitator menjelaskan bahwa kemampuan berbicara bukan hanya soal kata-kata, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menyampaikan pesan melalui bahasa tubuh dan cara berkomunikasi.
Materi dasar ini menjadi bekal sebelum peserta melakukan praktik secara langsung di depan kelompok.
Setelah sesi materi selesai, peserta dibagi ke dalam tiga kelompok kecil. Setiap kelompok didampingi oleh fasilitator yang membantu membimbing proses latihan dan memberikan arahan selama simulasi berlangsung.
Dalam kelompok kecil tersebut, anak-anak mulai mencoba menyusun cerita sederhana tentang diri mereka sendiri. Mereka memperkenalkan nama, asal, dan hobi, lalu melanjutkan dengan menceritakan pengalaman menarik, kelebihan dan kekurangan diri, hingga hal-hal yang ingin mereka perbaiki ke depannya.
Suasana latihan terlihat cukup aktif dan interaktif. Anak-anak tampak antusias mencoba berbicara, bahkan beberapa di antaranya tidak ragu bertanya kepada fasilitator ketika mengalami kesulitan dalam menyusun cerita atau menentukan cara penyampaian yang tepat.
Saat sesi presentasi dimulai, setiap peserta diberikan waktu minimal lima menit untuk tampil di depan kelompok. Penampilan mereka kemudian diamati dan dinilai oleh tim fasilitator dari YKAA sebagai bagian dari evaluasi pembelajaran.
Beberapa anak masih terlihat gugup ketika berdiri di depan teman-temannya. Ada yang berbicara dengan suara pelan, mengulang kalimat tertentu, atau sesekali berhenti karena lupa dengan apa yang ingin disampaikan.
Namun demikian, sebagian besar peserta tetap berusaha menyelesaikan presentasi mereka hingga akhir. Ketika mulai membahas pengalaman pribadi, beberapa anak terlihat lebih nyaman dan perlahan menjadi lebih terbuka dalam berbicara.
Proses tersebut menjadi salah satu perkembangan positif yang terlihat selama kegiatan berlangsung.
Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk membantu anak-anak membangun rasa percaya diri secara bertahap. Melalui latihan sederhana seperti pengenalan diri dan storytelling, peserta belajar menyampaikan pikiran, memahami diri sendiri, dan berani tampil di depan orang lain.
Selain melatih kemampuan komunikasi, kegiatan ini juga membantu anak-anak belajar mengelola rasa gugup serta membangun keberanian untuk mencoba.
Sebagai tindak lanjut, peserta direncanakan akan mengikuti sesi public speaking berikutnya dengan bentuk yang lebih menantang, yaitu simulasi menjadi seorang reporter. Kegiatan tersebut diharapkan dapat membantu anak-anak mengembangkan kemampuan berbicara secara lebih spontan dan komunikatif.
Melalui proses yang dilakukan secara konsisten, anak-anak diharapkan dapat semakin percaya diri, mampu menyampaikan ide dengan lebih baik, serta berani mengekspresikan diri di berbagai situasi.
“Berani memulai dari hal sederhana adalah langkah awal untuk menjadi pembicara yang percaya diri.”